Sebening Hati

Mengenali Sifat Ujub

Posted by Qandyas pada 22 Mei 2009

Sifat ujub atau lebih dikenal dengan Membanggakan diri adalah salah satu dari penyakit hati. Hal ini bisa terjadi kepada siapa saja diantara kita. Tetapi Kecenderungannya sering dihinggapi oleh orang yang mempunyai kelebihan atau kemampuan lebih baik dari yang orang lainnya. Baik dalam satu bidang keahlian, keilmuan, kreatifitas, dan lain sebagainya. Terjadi baik dalam lingkungan kecil, kelompok atau dalam bermasyarakat. Ketika seseorang telah menganggap dirinya baik itu berarti suatu kesalahan telah terjadi, yang akan membuatnya menjadi takabur.

Adapun ciri-cirinya adalah sukar sekali untuk menerima kebenaran, sering memandadang remeh dan kurang menghargai orang lain. Sikap ini bisa diketahui saat ego atau nafsu lebih mendominasi didalam hati sehingga membuat hatinya menjadi keras. Kalau orang sudah terjangkit penyakit ini tidak segera menyadari, efeknya akan sangat berbahaya karena akan mengakibatkan hilangnya ketawadhuan seseorang. Dan biasanya perasaan seperti ini timbul karena ingin selalu dihormati dan disanjung.

Sesungguhnya orang yang baik itu tidak ada yang dapat mengetahuinya kecuali Allah. Karena Allah sajalah yang Maha mengetahui setiap hati hamba-Nya. Jika dipandangan manusia baik belum tentu dipandangan Allah itu baik tetapi lihatlah di akhir hayatnya. Hendaknya kita janganlah terlalu cepat untuk menilai baik atau buruknya seseorang. Jika Allah telah menghendaki kebaikan pada diri seseorang, maka akhir kehidupan nya akan mendapatkan khusnul khotimah (Akhir yang baik). Dan semua itu tidak lain karena karunia dan atas Rahmat Allah.

Allah SWT berfirman :

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. An Nur: 21)

Jadi jelaslah seandainya Allah sudah berkehendak maka akan pastilah terjadinya. Dan sebagai hamba-Nya kita tidaklah mengetahui bahwa ketika seseorang yang melakukan kemaksiatan itu pada akhirnya akan menyesali atas apa yang diperbuat. Lalu sadar, menyesal, bertaubat dengan sunguh-sunguh dan berjanji tidak akan melakukanya kemaksiatan itu kembali. Kalau ditanya mungkin syeitan pun akan menyesal telah memperdayanya sehingga balasan yang diterima bukannya berlanjut pada kenistaan tetapi justru malah taubatan nasuha atas karunia dan Rahmat Allah. Bagi orang yang yang telah membanggakan diri dan merasa diri lebih bisa saja larut kepada kesombongan, maka terjebaklah ia dalam dosa yang lebih besar dari orang yang di remehkan tersebut.

Untuk menghidari sifat ujub ini, munculkan lah selalu sifat tawadhu dan sibuk kan diri dengan melihat aib dan kekurangan diri sendiri. Sehingga tidak sempat lagi untuk memikirkan aib dan kekurangan pada orang lain. Selalu berdo’a dan memohon kepada Allah dengan merendahkan diri agar dijauhkan dari penyakit-penyakit hati seperti sifat ujub ini. Dan satu hal yang amat penting bagi kita adalah dengan mengawali segala kebaikan yang dilakukan dengan niat yang murni karena Allah. Ini adalah jalan terbaik sehingga kekurangan dan kesalahan itu akan berubah menjadi cucuran Rahmat Allah bagi diri.

Dari Amirul Mu’minin, (Abu Hafsh atau Umar bin Khottob rodiyallohu’anhu) dia berkata: ”Aku pernah mendengar Rosululloh shollallohu’alaihi wassalam bersabda: “Sesungguhnya seluruh amal itu tergantung kepada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai niatnya. Oleh karena itu, barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rosul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rosul-Nya. Dan barangsiapa yang berhijrah karena (untuk mendapatkan) dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya itu kepada apa yang menjadi tujuannya (niatnya).’” (Diriwayatkan oleh dua imam ahli hadits; Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrohim bin Mughiroh bin Bardizbah Al-Bukhori dan Abul Husain Muslim bin Al-Hajjaj bin Muslim Al-Qusairy An-Naisabury di dalam kedua kitab mereka yang merupakan kitab paling shahih diantara kitab-kitab hadits)

Semoga Allah selalu meridhoi semua amal kebaikan yang kita lakukan. Mohon maaf apabila ada kesalahan baik yang disengaja maupun yang tidak, baik yang saya ketahui maupun tidak saya ketahui. Karena diri ini tempatnya salah dan sungguh berbahagianya ketika mengetahui kesalahan itu sehingga bisa langsung bertaubat kepada Allah. Saya sadar bahwa kesempurnaan hanya milik Allah, kekurangan dan kekhilafan hanya milik diri ini.

Wallahu a’lam bishowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: